Peran Dan Tanggung Jawab Intelektual Muda Di Masa Kini.

Oleh : Ahmad Syarifudin

Ditahun ini kita dilanda dengan adanya Virus Covid-19, berdampak kepada semua lini sektor entah itu, Perekonomian, budaya, bahkan sampai Pendidikan akan tetapi Dunia pendidikan masih dianggap sebagai salah satu bagian ekosistem terpenting untuk memupuk kaderisasi yang sehat, maka sesungguhnya, sosok kaum intelektual muda seharusnya menjadi produk yang lebih unggul dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya, karena itulah dipundak kaum intelektual muda terpikul tanggung jawab besar, yakni mengukir masa depan bangsa.

Cara yang paling mudah untuk menggambarkan peran sekaligus prestasi kaum intelektual muda adalah dengan menengok sejarah panjang bangsa Indonesia. Tak pelak lagi, kaum intelektual muda menjadi tulang punggung perlawanan dengan nilai-nilai idealisme yang tinggi. Kaum Intelektual Muda merupakan lokomotif pendorong terciptanya transformasi sosial, bahkan lebih ekstrim lagi menciptakan revolusi sosial yang sistematik dan terpimpin. Telah tercatat sejarah, Gerakan Intelektual Mudalah yang akhirnya mampu mempersatukan para pemuda diseluruh kepulauan Nusantara pada tgl 28 Oktober 1928, pemuda inilah yang menjadi aktor dibalik yang mempercepat Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 17 Agustus 1945.

Pada setiap prestasi-prestasi Kaum intelektual terus terukir dengan indah. Namun tidak bisa dipungkiri, pada setiap generasi, selalu muncul pertanyaan yang paling mendasar, bagaimana peran yang bisa dimainkan oleh kaum intelektual muda pada masa sekarang? Apakah prestasi itu sungguh-sungguh berarti bagi bangsa ini?
Tanggung jawab moral?

Ya, yang paling utama dan yang paling memungkinkan untuk dilakukan saat ini adalah memperjuangkan tegaknya moral, karena pada masa terakhir ini, sebagaimana yang kita rasakan dampak Covid-19 serta media masa yang tersebar, negara masih merupakan institusi yang paling rawan untuk disalahgunakan. Berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan oleh aparatur negara merupakan tindakan yang secara langsung telah merampas hak-hak warga negara.

Hak-hak warga negara yang dimaksud dalam hal ini, meliputi 3 macam yaitu; Ushul (kebutuhan pokok) Muhayya-ah (penunjang kebutuhan pokok) dan Mutammimah (penyempurnaan kebutuhan pokok) KH Abdurrohman Chudlori, 2007: 07-08. Tiga dasar kebutuhan inilah yang menjadi alasan terpenting bagi gerakan kaum intelektual muda untuk berada digaris depan perjuangan menegakkan moral Bangsa. Sayangnya pada masa ini, Gerakan tersebut belum cukup lihai melakukan persinggungan dengan institusi negara. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kemampuan gerakan kaum intelektual muda.
Untuk melakukan proses negosiasi dengan Negara. Padahal, negosiasi merupakan salah satu cara paling penting dalam menegakkan moral.

Kelemahan inilah yang sering kita tonton pada menu-menu berita di media masa. Aksi masa sering kali tidak termanajemen dengan baik, sehingga berbuntut pada kericuhan, yang disebut sebagai anarkisme oleh aparat keamanan.

Patut ditegaskan bahwa aksi yang memang mensetting kericuhan, hanya bisa dilakukan oleh gerakan Kaum Intelektual Muda yang memiliki keterampilan dan mental yang tangguh. Gerakan seperti ini akan berfikir tentang pasca aksi dan proses negosiasi yang efektif. Bahkan perlu mencari formula untuk menggerakan kaum intelektual di masa yang akan datang, sehingga gerakan tersebut tidak dinegasikan sebagai biang keonaran, baik masyarakat yang dibelanya ataupun oleh aparat keamanan.

Nilai-nilai luhur itulah yang seharusnya menjadi ruh gerakan kaum intelektual muda.
Disamping itu, secara institusional, kaum intelektual juga mempunyai pijakan berupa Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni Keilmuan, Penelitian dan Pengabdian masyarakat, jika hal tersebut dapat diimplementasikan dengan baik, maka format gerakan yang diusung tentu akan lebih maksimal.

Bagaimana format gerakan Kaum Intelektual Muda di kampus-kampus yang berlatar belakang Islam.? Sesungguhnya, telah banyak tokoh-tokoh muslim yang memberikan jawaban atas hal ini, bahkan ada 2 (dua) warisan suci yang ditinggalkan oleh baginda Rosul Muhammad SAW, yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits, merupakan sumber dari segala sumber referensi yang tiada habisnya.

Kita tengok sejenak landasan nilai yang telah disebut secara tegas di dalam Al-Qur’an. Pertama, nilai kesetaraan, bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sama tanpa memandang perbedaan ras, agama, kedudukan, sosial dan lain sebagainya (Q S Al-Hujurat :13).

Kedua, nilai kebebasan bahwa adanya jaminan bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang baik, bertanggung jawab dan berakhlaqul karimah (Q S At-Taubah: 105).

Ketiga nilai musyawarah, yakni mengambil keputusan dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berkepentingan baik secara langsung maupun perwakilan dalam urusan bersama (Q S Ali Imron : 159).

Ke empat nilai keadilan, yakni menetapkan sesuatu keputusan baik yang berupa hukum, peraturan ataupun kebijakan sesuai dengan hakikat kebenaran (Q S An-Nisa: 135).

Maka jadi tantangan besar pada zaman ini bagi gerakan Kita untuk lebih mendewasakan pola dan dasar pergerakan untuk lebih idiologis dan prinsipil, sehingga bukan hanya sekedar kepentingan sesaat dan kelompok saja.

Pasca pemilu tahun 1999, gerakan kaum intelektual muda terkesan terpolarisasi dan terbawa arus reformasi 1998 yang kehilangan arah, bahkan memicu masuknya kekuatan global untuk mengaduk-ngaduk bangsa ini. Yang harus dipahami adalah, saat ini kita menghadapi kekuatan besar yang membawa Negara ini kesituasi awal abad 19, yakni kekuatan yang saat ini mengancam Kebhinekaan Indonesia yaitu fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama. Dua faktor ini juga yang menuntunnya melalui kebijakan-kebijakan politiknya.