TANTANGAN MENGHAFAL KITAB ALFIYYAH

Oleh : Ahmad Anwar Nasihin

Siapapun orangnya, yang menghafal Kitab Alfiyyah jangan merasa takabbur/sombong dengan hafalannya, karena bisa jadi hafalannya hilang dan tidak akan selesai sampai akhir bait, memang ada slogan di pesantren untuk kalangan para santri “ Pemuda yang hebat adalah pemuda yang mampu menghafal dan memahami Alfiyah “ santri putri pun akan lebih tertarik kepada santri putra yang mampu menghafal kitab Alfiyah 1000 Bait. Tetapi jangan salah tantangan kedua dalam menghafal Alfiyah adalah godaan perempuan. Biasanya santri belum hafal dan belum faham tiba tiba ia ingin menikah. Akhirnya santri itu keburu sibuk dengan urusan rumah tangganya.
Perlu diketahui bahwa Ibnu Malik dengan Isim Karimnya Muhammad bin Abdullah bin Malik ath-Tha’i al-Jayyani atau lebih dikenal dengan Isim laqobnya Ibnu Malik seorang pemuda yang mampu mengarang Kitab Alfiyah dengan perpaduan sastra arab dan teori grametika bahasa Arab. Ini sangat keren sekali karena di usia muda ia mampu mencetuskan pemikiran teori Bahasa Arab melalui kitab Alfiyah, yang ia susun di Negara yang bukan jazirah Arab yaitu Andalusia atau Spanyol.
Nadzom Alfiyah Ibnu Malik, merupakan sebuah karya yang sangat fenomenal, yang tidak akan pernah terhapus dalam khazanah intelektualitas pesantren. Khususnya pesantren salaf. Kitab ini bertemakan tentang kaidah-kaidah gramatika bahasa Arab, seputar nahwu shorof, dan diantara keunikan dari kitab ini adalah penempatan kata-kata dan contoh dalam nadzom yang tidak sembarangan, melainkan mempunyai maksud dan isyaroh tersendiri. Semisal kalam-kalam hikmah, falsafah dan nasihat hidup.
Konon, Syaikhuna Kholil Bangkalan Madura apabila ada pertanyaan dari masyarakat, baik itu masalah seputar ilmu fiqih ataupun permasalahan hidup lainnya, beliau sering menjawabnya dengan nadzhom Bait Alfiyah yang penuh dengan filsapat. Suatu ketika, ada pertanyaan yang diajukan kepada Mbah Kholil mengenai bagaimana hukumnya satu desa terdapat dua sholat jumat? Maka beliau menjawabnya langsung dengan nadzhom Alfiyah :

وَفِى اخْتِيَارِ لَا يَجِيْئُ الْـمُنْفَصِلُ # إِذَا اَتَى أَنْ يَجِيْئَ الْـمُتَّصِلُ

“Dalam keadaan ikhtiar (tidak sulit berkumpul), tidak boleh terpisah dengan melakukan jum’atan lebih dari satu, ketika berkumpul menjadi satu itu masih memungkinkan”.

Imam Ghozali berpendapat bahwa Alfiyah Ibnu Malik bukan merupakan kitab yang berisi fan ilmu agama. Akan tetapi Alfiyah akan menjadi kitab fan ilmu agama apabila digunakan sebagai alat untuk membaca kitab-kitab agama yang berbahasa Arab, Tulisan ini mencoba mengupas makna yang tersirat dari bai-bait syair Alfiyah Ibnu Malik yang didalamnya terdapat arti kiasan berupa kalam hikmah, falsafah dan nasehat kehidupan.

مَنْ تَبَحَّرَ فِى عِلْمٍ وَاحِدٍ تَبَحَّرَ جَمِيْعَ الْعُلُوْمِ

“Barang siapa yang tabahur (menguasai secara mendetail dan mendalam layaknya lautan) terhadap suatu ilmu (nahwu shorof), maka orang itu akan (mampu) tabahur pada semua ilmu”.
Saya ketika di pesantren pernah mendengar guru saya membacakan Syair tentang pentingnya belajar Ilmu Nahwu :
من طلب العلوم بغير نحو # كالعبور البحر بدون القارب
“Jalma nyuprih elmuna teu make nahwu # cara mentas laut teu make parahu ”

Ia tidak akan sampai kepada tujuannya, karena ia tidak menggunakan sarana / alat untuk menyebrang lautan tersebut. Begitupun orang belajar Ilmu Tafsir dan Hadits, ia tidak akan bisa mendalaminya apabila tidak belajar Ilmu Nhawu dan shorofnya.
Dalam bait Alfiyah Ibnu Malik, memberikan motivasi kepada para santri agar jangan kecil harapan dalam menuntut ilmu, ia harus tinggi dalam cita citanya dan dan rendah diri ( Tawadlu), dalam kehidupannya, diungkapkan dalam baitnya :

فَارْفَعْ بِضَمِّ وَانْصِبَنْ فَتْحَا وَجُرّ # كَسْرًا كَذِكْرُ اللهِ عَبْدَهُ يَسُرْ

“Bercita-citalah setinggi langit, dan berteriaklah yang mulia, serta rendahkanlah hatimu. Insya Alloh dirimu akan mendapat kemudahan serta kebahagiaan dan mati dengan khusnul khotimah” Amin.

Tantangan seberat apapun bisa dilewati dengan baik, apabila kita ada kemauan dan kesemangatan dalam mengkaji Kitab Alfiyah, karena biasanya orang yang hafal kitab Alfiyah akan mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri, walaupun dia hidup di hutan belantara orang itu akan tetap dikenal dan diketahui oleh ratusan bahkan ribuan manusia, ibarat intan berlian tenggelam di dalam lumpur, tetap akan kelihatan walapun sudah terkubur dengan lumpur. Inilah uniknya orang yang mempunyai pemahaman dan hafalan kitab Alfiyah.
Konon katanya, hafalan Alfiyah itu sendiri lebih cepat hilang dibanding Alquran apabila si penghafalnya berbuat maksiat. Dan juga orang yang hafal Alfiyah itu derazatnya akan tinggi dan selalu mendapatkan kemulianan baik dari mahluk atau dari sang pencipta. Wallahu a’lam.
Diceritakan bahwa Syekh Ibnu Malik dalam menyusun nadzom Alfiyah ini terinspirasi dari almarhum sang guru yang sudah terlebih dahulu menyusun sebuah nadzom yang berjumlah 500 bait. Beliau adalah Syekh Ibnu Mu’thiy. Karyanya tersebut diberinama Alkaafiyah, namun mashur juga disebut dengan Alfiyah Ibn Mu’thiy. (Disebut Alfiyah, karena terdiri dari 1000 satar, adapun satar, adalah setengah bagian dari satu bait).
Ketika beliau sudah mantap menyimpan semua gambaran nadzom Alfiyah dalam memori otaknya, beliau pun memulai untuk menulis untaian nadzom-nadzom indah tersebut. Hingga pada saat beliau menulis bait ke lima, bagian satar ke sepuluh yang berbunyi;

وتَقتضِى رضًا بغير سخطٍ # فائقةً ألفيّةً ابن معطى
Dan kitab Alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan # Dan kitab Alfiyah ini lebih unggul dari kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thiy.
Seketika semua hafalan yang sudah tersimpan rapi dalam memori otak beliau pun lenyap. Beliau tidak ingat satu huruf pun. Syekh Ibnu Malik pun merasa cemas, sedih, juga bingung, entah apa yang harus beliau lakukan. Hingga akhirnya beliau pun tertidur pulas.

Dalam mimpinya, beliau dibangunkan oleh seorang kakek yang memakai pakaian serba putih, jubahnya hampir menutupi sebagian kepalanya sehingga wajahnya tidak nampak secara jelas. Kakek itu menepuk pundak Syekh Ibnu Malik sambil berkata; “Wahai anak muda, bangunlah! Bukankah kamu sedang menyusun sebuah kitab?” “Iya kek,” seketika Imam Ibnu Malik terbangun. “Namun aku lupa semua hafalanku, sehingga aku tak mampu tuk melanjutkannya” jawabnya. Kakek itu pun bertanya, “sudah sampai mana kamu menulisnya?” “baru sampai bait kelima”, beliau menjawab sambil membacakan bait yang terakhir. “bolehkah aku melanjutkan hafalanmu,?” tanya kakek tersebut. “tentu saja”. Kakek itupun membacakan sepasang bait;
فائقةً من نحو ألف بيتي # والحيّ قد يغلب ألف ميّتي
Seperti halnya mengungguli dalam seribu bait # Orang yang masih hidup, terkadang mengalahkan 1000 orang yang sudah meninggal.
Seketika setelah mendengar satu bait yang diucapkan oleh kakek tersebut, Syekh Ibnu Malik pun terbangun dan beliau pun menyadari satu hal, bahwa kakek dalam mimpinya itu tidak lain adalah sang guru, yakni Syrkh Ibnu Mu’thiy yang dengan jelas menegur Syekh Ibnu Malik dengan sindiran di bait tersebut.
Beliau juga sadar, bahwa ungkapan bangga yang beliau ungkapkan dalam bait kelima tersebut ternyata merupakan perasaan takabbur yang timbul dari nafsunya, perasaan yang secara tidak langsung telah menerobos sebuah adab, akhlaqul karimah seorang murid kepada gurunya.
Sadar akan hal itu, Imam Ibnu Malik pun bertaubat kepada Sang pencipta atas rasa takabburnya. Beliau juga hendak meminta maaf kepada Imam Ibnu Mu’thiy, beliau berziarah ke makam Syekh Ibnu Mu’thiy.
Selepas berziarah, beliau pun hendak melanjutkan karangan tersebut dengan menambahkan 2 bait di bagian mukadimah yang pada awalnya tidak masuk dalam rencana, dengan harapan bahwa hafalannya akan pulih kembali. 2 bait tersebut berbunyi seperti ini:
وهو بسبق حائز تفضيلا # مستوجب ثنائي الجميلا
Dan dia (Imam Ibnu Mu’thiy) memang lebih dahulu dan mendapatkan keunggulan. Dia juga pantas mendapatkan pujian (legitimasi) yang sangat baik dariku.
والله يقضي بهبات وافرة # لي وله في درجات الآخرة
Semoga Allah memberikan anugerah yang sempurna untukku dan juga beliau dalam derajat yang tinggi di akhirat kelak.
Secara ajaib, semua memori hafalan nadzom yang ingin beliau tulis itu pun kembali tergambar jelas di otak dan hatinya. Beliau pun sangat bersyukur dan kemudian melanjutkan karangannya. Hingga akhirnya terciptalah sebuah mahakarya yang terkenal di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Nadzoman yang sangat popular dikalangan santri, khususnya santri salaf. Dan sampai saat ini pun, masih banyak santri-santri yang menghafalnya.