SEJARAH PONDOK PESANTREN LIUNGGUNUNG RAUDLATUT TARBIYYAH

Pondok Pesantren Liunggunung, didirikan oleh KH. Didi Izzuddin bin KH. Ibroni pada tahun 1950, kyai Didi dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 17 Juni 1915, Kyai Didi adalah muridnya KH Zainal Mustofa Sukamanah Tasikmalaya, yang merupakan Pahlawan Nasional. Didi muda Mondok di pesantrennya KH Zainal Mustofa selama 8 tahun, dari usia 17 tahun sampai dengan usia 25 Tahun, ia terlibat langsung dalam membantu gurunya dalam melawan Penjajah, (Belanda dan jepang) yang terkenal dengan sebutan Pemberontakan Singaparna.

Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesiapun diduduki oleh Pemerintah Militer Jepang. Ketika itu Pemerintah Jepang membebaskan KH. Zaenal Mustofa , yang sebelumnya KH Zaenal Mustofa ditahan oleh kolonial Belanda,
akhirnya ia dan KH Rukhiyat Cipasung dibebaskan dari penjara ciamis, dengan harapan Kyai Zainal Mustofa mau membantu Jepang dalam mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Akan tetapi, apa yang menjadi harapan Jepang tidak pernah terwujud karena KH. Zaenal Mustofa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada upacara penyambutan kembali di Pesantren Sukamanah, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda asing. Ia malah memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.
Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun. Maka Kyai Didi pun pulang ke kampung halamannya di Desa Cayur Kecamatan Cikatomas Tasikmalaya, dan selang dua tahun setelah keluar dari pesantren Sukamanah Kyai Didi menikah dengan seorang perempuan yang bernama Siti Rahmah, putri dari KH Ahmad Damanhuri seorang tokoh ulama di desanya.
Belakangan, Kepala Ereveld Ancol, Jakarta, memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah di Eksekusi di hukum mati pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.
Sampai di Purwakarta
Pada tahun 1948 Kabupaten Tasikmalaya dijadikan salah satu basis markas DI/TII di bawah Pimpinan Kartosuwiryo, hingga akhirnya banyak tokoh Agama di tasikmalaya yang bergabung dengan DI/TII, baik dengan kemauannya sendiri maupun keterpaksaan karena tekanan dari lingkungan dan Guru guru mereka yang masuk di DI/TII. Tetapi Kyai Didi Izuddin menghindar dari tekanan dan paksaan tersebut untuk tidak mau bergabung dengan DI/TII, akhirnya beliaupun sampai ke Purwakarta, walaupun tujuan utamanya bukan untuk ke purwakarta, padahal beliau untuk berkunjung ke daerah Cogondewah Bandung untuk menemui seorang Kyai.
Tetapi nasib berkata lain, kereta yang ia tumpangi tidak berhenti di Bandung, hingga akhirnya kereta melaju ke Purwakarta dan berhenti di stasion Cimuntuk Sukatani, kereta dihentikan karena di wilayah tersebut sedang ada perlawanan masyarakat pribumi terhadap belanda. Akhirnya Didi berjalan melewati pesawahan hingga akhirnya sampai disuatu tempat bernama kampung Cianip, bertemu dengan seorang Ajengan muda yang bernama Zenal (Ajengan Ejen). Hingga didi beristirahat di rumahnya Ajengan Ezen Cianip, diterima dengan baik dan hangat sampai akhirnya mengenal satu sama lain.
Setelah itu Kyai Didi, diajak bersilaturahmi oleh Ajengan Ezen ke rumahnya Ajengan Idris ( Mama Idris Cimuntuk ), hingga beberapa minggu Kyai Didi tinggal di Pesantrennya Ajengan Idris, kemudian Ajengan Idris pun mengantar Kyai Didi ke Pesantren Sempur Keraton yang di Pimpin oleh Syaikhuna Mama KH Tb Ahmad Bakri, sedangkan Ajengan Idris adalah murid pertamanya Mama KH. Tb Ahmad bakri Sempur. Hingga akhirnya Kyai Didi disuruh mondok oleh mama sempur di pesantren yang ia pimpin selama dua tahun. Sementara Istrinya di Tasikmalaya bertanya tanya, kehilangan suami yang tadinya bermaksud mau silaturahmi ke mama Cigondewah, tetapi sudah dua tahun lebih tidak kunjung pulang. Keluarga pun menyangka bahwa Kyai Didi sudah meninggal dunia. Karena situasi saat itu begitu genting, terbukti dengan meninggalnya Ajengan Muhdin kakak iparnya Kyai Didi atau ayahandanya KH Ahmad Zainal Muqorrobin, yang di bunuh oleh kelompok pemberontak DI/TII. Hingga akhirnya keluarga pun menyimpulkan bahwa Kyai Didi juga terbunuh.
Setelah dua tahun mondok, akhirnya Mama Sempur menyuruh pulang kepada Kyai Didi ke Tasikmalaya untuk menemui sekaligus mengajak Istrinya, bermukim di Purwakarta, karena mama sempur sudah punya rencana ingin menempatkan Kyai Didi tinggal di Desa Liunggunung, hingga akhirnya Kyai Didi dengan Istrinya ditempatkan oleh Mama Sempur di Desa Liunggunung, beliau menitipkan kepada seorang tokoh Desa Liunggunung yang bernama Abah Toyi, Kyai Didi begitu diterima oleh Masyarakat Liunggunung saat itu, hingga Abah Toyi merasa bangga kepada Kyai Didi, sampai ia pun diangkat menjadi Anak Angkatnya. Abah Toyi begitu loyal dan Dermawan dan mendukung segala bentuk perjuangan Kyai Didi, saking sayangnya Abah Toyi kepada Kyai Didi hingga ia diberi sebidang tanah, tempat tinggal dan madrasah untuk mengajar.
Awalnya pesantren berdiri diatas tanah 100 M2, dibangun di atasnya madrasah kecil yang sangat sederhana, menampung 30 orang santri, Kyai Didi, setiap waktu mengurus santri siang dan malam fokus mengajar santri, dimana di Desa Liunggunung saat itu belum ada Lembaga Pendidikan yang fokus mengurus santri, maka lambat laun berdirinya Pesantren Liunggunung, memberikan warna positif bagi perkembangan masyarakat dari segi Pendidikan dan pertanian yang lebih produktif, kyai Didi mengembangkan pertanian dari hasil Bumi di Desa Liunggunung, menjadi komuditas ekonomi yang lebih maju dan menguntungkan bagi masyarakat. Akhirnya Pondok Pesantren Liunggunung semakin berkembang, dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat luas, di luar Desa Liunggunung.
Membentuk Ansor di Plered
Pada tahun 1955, Kyai Didi Izzuddin, bertemu dengan Kyai Pudoli Empangsari, ia adalah seorang Anggota Huzbullah, yang waktu itu pangkatnya baru Letnan Kolonel, ia salah satu santrinya Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (Pendiri Nahdlatul Ulama) Kyai Didi sering berdiskusi dengan Kyai Pudoli, dari urusan agama sampai dengan urusan bangsa. Kyai Didi sangat dekat dengan Kyai Pudoli, hingga akhirnya Kyai Pudoli, menyarankan kepada Kyai Didi, untuk membentuk Ansor di Kewadanaan Plered, maka kyai Didi pun merospon baik, atas saran dari Mama Pudoli tersebut. Ia diangkat langsung menjadi Pimpinan Ansor Kewadanaan Plered, istilah waktu itu dengan sebutan “ Pimpinan Baret Hejo”. Kyai Didi pun mulai mebentuk Ansor di berbagai daerah khususnya Desa Liunggunung, yang waktu itu dikomandoi oleh Ajengan Obay dan Ajengan Obon. Seterusnya Ajengan Didi membentuk pasukan pasukan Ansor di berbagai daerah yang ada di kecamatan Plered hingga wilayah Sukatani,Tajursindang.dikomandoi oleh Ajengan Ejen Cianip dan Ust. Dahro, sedangkan untuk wilayah tegal waru sampai dengan Cidongkol dikomandoi oleh Lurah Muksin Cidongkol.

KH Didi Izzuddin Saat menjadi Ketua Ansor Kewadanaan Plered
Tahun 1960

Pada tahun 1969 KH Didi Izzuddin berangkat ke tanah suci sepulangnya dari tanah suci Makkatul Mukarromah KH Didi membagun Asrama Putri, hingga luas tanah pesantren bertambah yang tadinya 100 M2 menjadi 5000 M2, Seorang Kyai akan semakin disegani dan dihormati oleh Masyarakatnya apabila dia sudah melaksanakan Ibadah haji, begitupun dengan Mama KH Didi, ia semakin bertambah karismatiknya, dan semakin berwibawa, Perjuangannya dalam mengurus pesantren dan mengurus NU tidak pernah pudar, ia semakin semangat dalam berkhidmat kepada umat, sehingga banyak santri beliau yang bermukim kemudian menjadi Ajengan di daerahnya masing masing.
KH Ahmad Zainal Muqorrobin menjadi Penerus KH. Didi Izzuddin
Setelah Mama KH Pudoli meninggal dunia, pada tahun 1965, Kyai Didi seakan kehilangan sayapnya, ditambah pada tahun 1973 Guru Tercintanya Mama KH Tb A Bakri sempur Wafat, maka Kyai Didi cenderung lebih pokus tinggal di Pesantren, sementara kepemimpinan Ansor dilanjutkan oleh H. Misbah. Dan Kyai Didi terus mengembangkan Pesantren Liunggunung hingga akhirnya wafat pada tahun 1981, ribuan orang terutama para santri dan Masyarakat mengantarkan Zenajah Mama Kyai Didi Izzuddin ke tempat peristirahatan terakhir ia di Makamkan di Makam Umum Tegalastana. Setelah Mama KH Didi Izzuddin Wafat Pondok Pesantren Liunggunung di teruskan oleh Keponakan sekaligus menantu beliau yaitu KH. Ahmad Zainal Muqorrobin dan pesantren Putri dilanjutkan oleh Ajengan Anwar Musaddad masih keponakannya Mama Didi. Sedangkan Ajengan Musadad meninggal Dunia tahun 1995.
Pesantren di bawah kepemimpinan KH. Ahmad Zainal Muqorrobin, berkembang pesat hingga perluasan tanah menjadi 1,5 Ha. Ajengan Obin sebutan akrabnya, seorang santri Lulusan Pondok Pesantren Bantargedang Tasikmalaya di bawah asuhan Mama KH Muhammad Ruhiyat, ia belajar di Ponpes bantargedang selama 12 Tahun, dan masih banyak pesantren lainnya yang ia singgahi. Sehingga Pesantren Liunggunung lebih cenderung ber cirikhas Kitab Alpiyyah ( Nahwu Shorof) dalam satu tahun kitab Al-Piyyah bisa ditamatkan dua kali, satu kali dalam pengajian balaghan sehari hari. dan satu kali lagi di tamatkan dalam pengajian Pasaran yang dilaksanakan pertengahan bulan Sya’ban sampai dengan pertengahan bulan Ramadhan ( Selama satu bulan). Ajengan Obin banyak menoreh Prestasi, karena ia berwawasan tinggi dalam mengkaji keilmuan di pesantren, bahkan ketika Mama Didi masih hidup, beliau sangat kagum dan percaya terhadap kecerdasan Ajengan Obin

KH Ahmad Zainal Muqorrobin

Setelah kepemimpinan oleh Ajengan Obin banyak Inovasi dan terobosan metodelogi Pesantren, hingga pesantren akhirnya mengalami kemajuan, pesantren Liunggunung, akhirnya diberi nama dengan Bahasa Arabnya yaitu RAUDLATUT TARBIYYAH yang artinya Taman Pendidikan, nama yang sangat sederhana, tidak begitu berlebihan dalam penamaannya. Hanya bermakna “Taman atau Kebun”. Pesantren Liunggunung masih konsisten sebagai pesantren salafiyah dan pesantren NU yang ada di pedesaan, selama dari tahun 1950-2003 tidak menyelenggarakan Pendidikan umum, konsentrasi Takhossus Kitab Kuning, tetapi pada tahun 2004 Pesantren Raudlatut Tarbiyyah sebagai ponpes salafiyah yang menyelenggarakan Program Wajar Dikdas 9 tahun bekerja sama dengan Departemen Agama RI dengan menyelenggarakan Program Wustha setara SMP dan 2019 Lahir Program Ulya Setara SMA.
Ketika KH Obin memimpin Pesantren Liungguunung, bukan tidak ada ujian dan cobaan yang berat, yang menimpa dirinya dan Pesantren Liunggunung, beliau suatu waktu pernah mengalami intimidasi dari aparat dan preman di Desa Liunggunung, hingga beliau mengalami serangan fisik sampai diserang oleh 60 orang, sehingga rumah mertuanya di lempari batu hingga akhirnya rusak berat. Maka Pesantren pun pada tahun 1983 – 1986 dibekukan oleh Pemerintah Desa Liunggunung tidak bisa beroperasi, sementara Ajengan Obin di usir dari Liunggunung, dan santri yang mondok untuk sementara dibubarkan dulu, kejadian itu lantaran berbeda pandangan Politik antara Ajengan Obin dengan kepala Desa pada waktu itu, seharusnya masyarakat diwajibkan untuk memilih partai tertentu, malah Ajengan Obin berbeda pendapat dengan Kuwu era Orde Baru tersebut
Ajengan Obin pernah menjabat Wakil Ro’is Syuriah PCNU Kab Purwakarta Zaman Abah KH Adang Badruddin menjadi Rois Syuri’ah PCNU pertama, kemudian pada periode kedua KH AZ Muqorrobin lebih memilih aktif menjadi Rois Syuriah MWC NU kecamatan Plered.
Silsilah KH Ahmad Zainal Muqorrobin
Ahmad Zainal Muqorrobin Putra pasangan dari Nyi Inasaroh dan Ahmad Muhdin, dua duanya putra seorang Kyai kampung / Tokoh Agama setempat, silsilah dari ibu dan ayahnya sampai ke Syekh Abdul Muhyi Pamijahan.
Ahmad Zainal Muqorrobin Bt Nyi Inasaroh Bt Hasan Ahmad Bin Ahmad Hasan Bin Ahmad Ali bin Ali Alias Pranawangsa bin Rd. Arsabaja Bin Abdul Alias Anggadipa ( Dalem Sawidak ) Bin Raden Djajamangggala Wiradadaha II dst.
KH. Ahmad Zainal Muqorrobin, Sedang genjar genjarnya mengembangkan Pesantren dan NU, maka Allah punya rencana dan berkehendak lain, KH AZ Muqorrobin Wafat di panggil ke Rahmatullah pada tanggal 19 Rajab 1419 bertepatan tanggal 21 Juli 2009, pada usia yang masih muda 54 Tahun, bukan hanya keluarga santri dan Alumni begitupun Masyarakat merasa kehilangan sosok kyai yang begitu kharismatik dan berwibawa. Banyak jasa jasa beliau yang ditinggalkan di Liunggunung dan di Pesantren Raudlatut Tarbiyyah, beliau wafat akibat sakit selama kurang lebih dua bulan. Walaupun beliau tidak mempunyai santri yang banyak, tetapi jebolan atau Alumni beliau banyak yang menjadi Ajengan di daerahnya masing masing, selain itu, ia mengkader para santri-santrinya agar senantiasa berkhidmat di Nahdlatul Ulama (NU).
Penerus KH Ahmad Zainal Muqorrobin
Akhirnya pondok Pesantren diteruskan oleh generasi ketiga yaitu H. Ahmad Anwar nasihin, dan dibantu oleh saudara saudara yang lain yaitu Asep M Murtadlo dan Asep Lukman ( Menantu ) putra kesatu dari KH. Ahmad zainal Muqorrobin secara permanen dia dan saudaranya meneruskan Pondok Pesantren Liunggunung peninggalan kakek dan bapaknya, sampai saat ini, ia memimpin, dan Ponpes Liunggunung telah mengalami kemajuan yang bertahap,

H. Ahmad Anwar Nasihin