BALASAN PELAKU KEDZALIMAN

Oleh: DR. KH. Abun Bunyamin, MA

Q.S. An-Nisa : 30

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Setelah pada ayat sebelumnya Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian dari mereka atas sebagian yang lain dengan cara yang batil, yakni melalui usaha yang tidak diakui oleh syariat, seperti dengan cara riba dan judi serta cara-cara lainnya, pada ayat 30 dari surat An-Nisa ini Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang-orang yang tidak mengindahkan larangan Allah Ta’ala tersebut.

Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa ayat ini mengandung ancaman keras dan peringatan yang dikukuhkan. Karena itu, semua orang yang berakal dari kalangan orang-orang yang mempunyai pendengaran dan menyaksikan hendaklah bersikap hati-hati dan waspada.

Abu Ja’far rahimahullah menjelaskan bahwa para ahli tafsir berbeda pendapat tentang larangan yang dimaksud dalam ayat ini. Sebagian berpendapat maksudnya adalah larangan membunuh diri sendiri dan membunuh saudaranya sesama kaum mukminin. Pendapat lain menyebutkan bahwa ayat ini adalah larangan melakukan semua perkara yang Allah haramkan dari awal surat ini hingga ayat 29 seperti menikahi wanita yang haram dinikahi, melampaui batas, memakan harta anak yatim secara zalim, membunuh jiwa yang haram dibunuh secara zalim. Ada pula yang berpendapat bahwa larangan yang dimaksud adalah memakan harta saudaranya sesama muslim dan membunuh seorang mukmin secara zalim.

Abu Ja’far rahimahullah kemudian menyimpulkan bahwa pendapat yang benar adalah bahwa larangan tersebut meliputi perkara-perkara yang Allah haramkan meliputi menikahi wanita yang haram dinikahi, memakan harta dengan cara batil, dan membunuh orang beriman.

Dalam Tafsir al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili rahimahullah menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala menegaskan barangsiapa mengambil harta orang lain secara paksa dan dengan menzalimi mereka, seperti merampok dan memalak, atau membunuh seseorang dengan sengaja dan penuh kebencian di luar hukum qishash, tanpa adanya batasan dan tindakan pembalasan dalam hal itu, maka Kami akan memasukkannya ke dalam api yang sangat besar (neraka) di akhirat. Hukuman itu sangat mudah bagi Allah, dan tidak ada apapun yang bisa melemahkan-Nya.

Kata Al-‘Udwan adalah menyerang orang lain disertai dengan niat sedangkan Az-zhulmu adalah tindakan yang menyalahi kebenaran. Sedangkan Syaikh Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa singkatnya makna kedua kata tersebut adalah bukan karena tidak tahu dan lupa.

Di akhir ayat ini Allah Ta’ala menegaskan bahwa pemberian azab tersebut merupakan hal mudah bagi Allah, tidak ada yang dapat menghalangi-Nya, karena tidak ada yang susah bagi-Nya. Disebutkan dalam Aisarut Tafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi hafizhahullah mengatakan bahwa hal tersebut menunjukkan kesempurnaan kemampuan Allah untuk melaksanakan siksaan ini yang mana tidak ada yang dapat menghindar dalam berbagai kesempatan.

Kesempurnaan kekuasaan Allah Ta’ala bahkan meliputi segala sesuatu. Allah Ta’ala berkuasa untuk menciptakan Isa bin Maryam ‘alaihissalam tanpa ayah. Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. (QS. Maryam 21)

Al-‘Udwan dan Az-Zulm
Dalam ayat 30 dari surat an-Nisa ini Allah Ta’ala menyebutkan dua kriteria maksiat yang diancam dengan siksa yang pedih di neraka, yaitu al-‘udwan dan az-zulm.

Disebutkan Thanthawi rahimahullah dalam al-Wasith bahwa Al-‘Udwan adalah melampaui batas syariat secara sengaja sedangkan az-Zulm adalah meletakan sesuatu bukan pada tempatnya. Setiap maksiat yang didasari dua kriteria tersebut diancam dengan ancaman siksa yang pedih di neraka.

Setiap orang yang bermaksiat pada Allah Ta’ala pada hakikatnya ia adalah orang yang bodoh. Kebodohan dari sisi terkait hak Allah Ta’ala yang wajib ditaati semua perintah-Nya dan dijauhi semua larangan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan..” (QS. an-Nisa: 17)

Diriwayatkan dari Qatadah bin Di’amah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam berkumpul, lalu mereka sepakat bahwa semua tindakan maksiat adalah kebodohan, baik dilakukan sengaja atau tidak sengaja.’

Dari sini, kita memahami perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

كَفَى بِخَشْيَةِ اللهِ عِلْمًا وَكَفَى بِالاِغْتِرَارِ بِاللهِ جَهْلًا

“Cukuplah rasa takut kepada Allah menjadi ilmu, dan cukuplah perasaan tertipu dengan rahmat Allah sebagai kebodohan.”

Karena itulah, para ulama disebut sebagai orang yang paling takut kepada Allah, karena rasa takutnya yang besar kepada-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Ilmu tentang hak dan syariat Allah Ta’ala merupakan bekal yang penting untuk menghindari maksiat tersebut. Dengan ilmu tersebut, seseorang dapat mengamalkan agama dengan benar sesuai yang ditunjukkan oleh syariat. Dengan demikian kita terhindar dari bahaya beragama tanpa ilmu.

Selain itu kriteria zalim dalam maksiat dapat kita pahami sebagai perbuatan sia-sia yang tidak ada manfaatnya bagi pelaku. Maksiat adalah kezaliman karena pelakunya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dengan tidak taat pada perintah Allah Ta’ala bahkan melanggar larangan-Nya.

Kezaliman meliputi kezaliman pada Allah Ta’ala, diri sendiri, dan kezaliman pada orang lain. Apapun bentuknya, kezaliman itu adalah perbuatan yang diharamkan. Dalam hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman:

إِنِّى حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِى الظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِى فَلاَ تَظَالَمُوا

“Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diriku dan aku jadikan kezaliman itu haram atas hamba-hamba-Ku maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)

Setiap maksiat yang dilakukan oleh seorang muslim kecil maupun besar, adalah bentuk kezaliman kepada dirinya sendiri. Sebab akibat perbuatan dosa tersebut akan kembali kepada dirinya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ ‌عِنْدَهُ ‌مَظْلِمَةٌ ‌لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

“Siapa yang memiliki kezaliman kepada saudaranya baik kezaliman terhadap kehormatannya, atau sesuatu yang lain, maka hendaknya ia meminta agar dihalalkannya, sebelum tiba hari tiada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal shalih maka amal shalih itu akan diambil darinya sesuai dengan kadar kezalimannya, jika ia tidak memiliki amal shalih maka dosa maksiat orang yang dizaliminya akan diambil dan ditimpakan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufiq hidayah bagi kita semua sehingga terhindar dari semua kemaksiatan dan kezaliman. Aamiin.

*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin / Rois Syuriah PCNU Kab Purwakarta